Berbuat kesalahan itu kekurangan manusia, namun belajar dari kesalahan itu kelebihan manusia....
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

Orang Yang Kreatif


Sebuah perusahaan di Amerika menyeleksi calon karyawannya dengan cara yang unik, yaitu dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan kreativitas dalam menjawabnya. Bila jawabannya dianggap benar, ia akan langsung diterima di perusahaan tersebut.

Situasinya adalah seperti ini: Anda sedang mengendarai mobil yang hanya cukup untuk dua orang penumpang saja di tengah badai yang hebat. Mobil Anda lalu melewati halte tua dan di sana Anda melihat tiga orang tengah menunggu pertolongan. Orang pertama adalah seorang nenek yang nampak sudah sekarat karena kedinginan, orang kedua adalah seorang pria yang pernah menyelamatkan hidup Anda, dan yang ketiga adalah pujaan hati yang sudah lama Anda incar.

Pertanyaannya adalah karena mobil Anda hanya muat untuk satu orang saja karena yang satu sudah Anda duduki, manakah dari ketiga orang itu yang akan Anda tolong?

Sebelum Anda tahu jawaban mana yang paling benar, Anda tentunya sudah meraba bahwa kreatifitas dalam berpikir sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tadi. Saat ini orang-orang kreatif sangat dibutuhkan di banyak perusahaan, tidak hanya sebatas di bidang periklanan atau industri film. Karena orang-orang yang pandai berkreasi dalam setiap situasi, adalah orang yang luwes dan termasuk dalam katagori orang yang memiliki Kecerdasan Emosi. Bukankah mereka yang berhasil dalam karir dan bisnis kebanyakan adalah yang memilki kecerdasan emosi ?

Kreativitas tidak berhubungan langsung dengan bakat. Kreativitas ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang tersimpan di "perpustakaan" memori Anda. Semakin sering dan banyak Anda membaca buku, semakin banyak pulalah inspirasi kreativitas tersimpan di hard disc otak Anda yang hingga saat ini kapasitasnya belum ada yang mampu menandingi, bahkan oleh komputer tercanggih sekali pun yang pernah diciptakan di muka bumi ini.

Para ahli menemukan bahwa kemampuan otak manusia baru dipakai sekitar 5% saja. Manusia yang diyakini telah menggunakan kapasitas otaknya sebesar 7% adalah Albert Einstein. Anda bisa mencoba untuk memaksimalkan kerja otak Anda dengan mencoba menjawab pertanyaan tadi.

Kita seringkali mudah melupakan isi buku yang pernah dibaca, namun bukan berarti itu sia-sia. Yang terpenting bukanlah rinciannya melainkan inti sari atau pesan moral yang akan mempengaruhi pola pikir pembacanya. Anda mungkin sudah lupa siapa nama bapak guru gank Laskar Pelangi dalam novel "Laskar Pelangi" yang luar biasa itu, tapi Anda tentu terinspirasi oleh novel atau film itu.

Jawaban kreatif yang dianggap benar oleh perusahaan tersebut rupanya adalah: Anda turun dari mobil lalu menemui orang yang pernah menyelamatkan hidup Anda, minta tolong untuk menyelamatkan nenek tua yang kedinginan itu. Sementara itu Anda menikmati saat-saat romantis berdua bersama dengan sang pujaan hati.

Kalau Anda tadi memilih menolong nenek tua yang sekarat, tidak usah kecewa, meskipun Anda tidak diterima bekerja, setidaknya Anda sudah menolong hidup seseorang.

Read More ..

Jumat, 08 April 2011

MENGGESER PARADIGMA PENDIDIKAN INDONESIA


Sebelum tanggal 2 Mei yang bertepatan Hari Pendidikan, beberapa minggu terakhir kita disuguhi berita yang menarik dari bidang pendidikan. Mulai Putusan Mahkamah Konstitusi Putusan Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009 mengenai uji materiil Undang-Undang No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan, prestasi Indonesia sebagai juara umum International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-17 di Denpasar, Bali serta yang terakhir adalah hasil Ujian Nasional. Ini juga dibarengi dengan peningkatan prestasi beberapa Universitas di Indonesia yang masuk dalam 500 Universitas terbaik di dunia. Prestasi demi prestasi yang diukir oleh anak bangsa tidak mempengaruhi kehidupan di Indonesia. Meningat pendidikan sebagai lokomtif pembaharuan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan pendidikan kita yang masih berorientasi pada pasar. Bahkan karena tuntutan pasar sering manusia mengabaikan moral terhadap sesame maupun pada alam. Rumus yang berlaku adalah apa yang pasar inginkan maka banyak sekolah maupun Perguruan Tinggi yang berlomba-lomba memberikan kurikulum kepada anak didiknya. Penting kiranya melakukan perombakan paradigma dalam sistem pendidikan kita demi menjadi bangsa yang cerdas dalam mengelola potensi daerahnya masing-masing tanpa terprovokasi oleh pasar. Sehingga, masing-masing daerah memaksimalkan potensinya masing-masing. Pendidikan Berbasis Lokalitas
Pada dasarnya Indonesia dengan letak geografis, keberagaman budaya, adat istiadat menunjukkan ciri dan karakter yang berbeda-beda dari masyarakat. Apabila dicermati, kita sering menemukan pembangunan industri yang diusung oleh pemerintah tidak sinkron dengan kondisi dan Sumber Daya Manusia (SDM) pada suatu daerah. Meskipun, industri yang berdiri pada daerah tersebut memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat sekitar. Akan tetapi, karena tidak dibarengi dengan SDM yang memadai, sehingga penduduk di sekitar lokasi industri biasanya hanya menjadi buruh di tempat tersebut. Apalagi pembangunan sebuah industri ataupun pembangunan dalam sektor lain sering kali memiliki dampak pada lingkungan yang berubah ke arah lebih buruk. Dalam hal ini pemerintah harus berperan semaksimal mungkin dengan menyediakan sarana-sarana sosial seperti adanya ruang public sebagai tempat proses pengembangan kualitas pendidikan yang didalamnya masyarakat kemudian mengembangkan kreatifitas dan merupakan wujud aktualisasi untuk memanusiakan manusia beserta lingkungan di sekitarnya.
Dalam proses memanusiakan manusia juga diperlukan dalam penggalian akar-akar budaya, serta tidak ketinggalan dalam menggali potensi-potensi Sumber Daya Alam (SDA) lokal. Dengan melihat potensi dan karakter daerah di Indonesia perlu digali dan dikembangkan. Selama ini, pendidikan umum yang diperoleh siswa hanya melihat kebutuhan pasar tanpa melihat potensi daerah. Misalkan suatu daerah X memiliki potensi pariwisata maka kurikulum sekolah maupun perguruan tinggi tersebut fokus terhadap permasalahan pariwisata. Daerah Y memiliki potensi minyak yang besar sehingga kurikulum daerah Y didasarkan potensi daerah Y, mulai dari teknik pertambangan, pengelolaan minyak, dan penambangan minyak yang minim biaya dan ramah lingkungan. Atau misalkan suatu daerah memiliki potensi pertanian, dimana disana dikembangkan potensi pertanian yang diperlukan dalam memperoleh varietas baru, menemukan produk yang bisa dimanfaatkan dari hasil pertanian tersebut. Ini juga bermanfaat mengurangi penumpukan penduduk di suatu wilayah dan memberikan persebaran wilayah pasar dan potensi pasar.
Maka daripada itu, kurikulum pada suatu daerah bisa berbeda dengan daerah lain karena tiap daerah juga memiliki potensi SDA yang berbeda. Perlu diingat juga kurikulum berbasis potensi daerah ini sudah diajarkan pada sekolah paling rendah, sehingga sejak dini siswa mengenali potensi dan semakin intensif terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya. Dengan begitu masyarakat sekitar nantinya tidak melulu menjadi buruh apabila di daerah tersebut dibangun pabrik. Dengan memaksimalkan potensi lokal tidak akan terjadi penumpukan penduduk. Pengelolaan dan memaksimalakan potensi lokal secara baik mampu menyerap tenaga kerja atau membuka usaha baru di tiap daerah. Dominasi daerah yang memberikan peluang pekerjaan akan luntur dengan sendirinya dan konsentrasi penduduk pun sedikit demi sedikit terkikis.

Pengenyahan Atas Nama Modernisasi
Modernisasi sering kali disalah tafsirkan dengan mengenyahkan kearifan lokal. Pendapat ini berawal dari modernisasi yang menimbulkan kerusakan lingkungan, sehingga memberikan gambaran bahwa modernisasi mengabaikan moralitas. Disinilah kearifan lokal perlu diajarkan dalam kurikulum pada setiaap jenjang pendidikan. Membahas moralitas tidaklah selalu agama tetapi tiap-tiap daerah memiliki pandangan filosofis tentang kehidupan, hubungan sesama dan hubungan dengan alam. Dengan kurikulum ini menjadi seimbang antara intelektualitas dengan memperlakukan makhluk, karena perusakan baik fisik dan psikis alam serta sosial tidak seimbangnya hal tadi. Ada kerinduan individu di Indonesia untuk kepada nilai-nilai lama disebabkan kondisi riil saat ini yang jauh dari harapan. Dulu kita menganggap nenek moyang kita orang yang kolot dan kuno. Tetapi, sekarang kita tersadar bahwa apa yang diajarkan dan diturunkan melalui peribahasa, pantun maupun lagu mengandung makna serta pelajaran yang berhaga bagi kita, para penerusnya.

Irfa Ronaboyd
Pimpinan umum LPM Spirit Mahasiswa

Read More ..

Senin, 04 April 2011

Masihkah Ada Pesona Buku di Perpustakaan?


BUKU adalah jendela dunia. Pepatah itu yang sering dibaca siswa ketika memasuki perpustakaan sekolah. Dengan semangat ingin tahu atau entah dengan motif apapun mereka pergi ke perpustakaan untuk memilih referensi dan bahan bacaan yang dikehendaki. Seiring dengan perkembangan teknologi, kehidupan yang global semakin memudahkan transfer informasi dari sumber mana pun. Sumber online menjadi lebih populer karena mampu memberikan hasil secara langsung segala bentuk informasi yang dibutuhkan pengakses internet. Internet tidak hanya menjelma sebagai jendela, tetapi sudah menjadi gerbang bagi manusia untuk membaca dunia. Dikenallah dunia maya atau cyber space melalui berbagai jejaring sosial seperti yahoo messenger, friendster, blogspot, wordpress, twitter, hingga facebook. Tanpa disadari, minat baca konvensional masyarakat semakin berkurang dan eksistensi buku di perpustakaan mengalami degradasi bagi para pembacanya.

Seperti yang dikutip dari harian Kompas, 26 Maret 2011, Buku, sastra, dipercaya sebagai simbol tingkat peradaban bangsa. Namun, nasib Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin di kompleks Taman Ismail Marzuki sungguh mengenaskan." Pusat-pusat dokumentasi yang dibangun oleh tokoh-tokoh penting di negeri ini ternyata bernasib sami mawon. Kenyataan ini membuat gemas sejumlah pecinta sastra yang menelurkan gerakan penggalangan simpati, termasuk melalui media sosial. Kenyataan itu juga membuat kita bertanya, masih adakah pesona keasyikan membaca di perpustakaan bagi anak-anak sekolah?

Pertanyaan dari kutipan berita tersebut menyiratkan bahwa minat baca konvensional dengan pergi ke perpustakaan sudah tidak lagi favorit bagi anak-anak sekolah. Warnet (warung internet) yang pertumbuhannya semakin meningkat dan didukung oleh lokasinya yang selalu berdekatan dengan institusi pendidikan, membuat para pelajar lebih mudah menjangkaunya. Selain lebih menyenangkan, warnet memberi peluang atau kesempatan lebih besar untuk mengetahui wawasan dunia dibandingkan perpustakaan.

Sayangnya tidak semua situs yang ada di internet layak untuk dijelajahi, khususnya bagi pelajar. Situs-situs yang mengandung unsur pornografi atau yang membuat ketagihan, seperti game online, sulit dihindari sehingga mampu mematikan fungsi syaraf otak untuk berpikir. Hal seperti ini mampu menghambat proses penggalian wawasan dan merusak moral bangsa sedikit demi sedikit. Apalagi tidak ada kontrol khusus untuk pelanggan warnet dari pemilik warnet atau yang biasa disebut server. Oleh karena itu, pengguna internet yang dalam hal ini disebut user, harus memiliki kebijaksanaan sendiri dalam menggunakan fasilitas internet dengan baik dan benar sesuai kebutuhan. Melihat posisi strategis warnet yang mampu menggeser eksistensi perpustakaan, maka perlu adanya suatu upaya agar perpustakaan kembali diminati oleh para pelajar.

Ada banyak metode yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali budaya membaca buku dan sastra. Saat ini, konsep free wifi zone dan mini cafe yang diterapkan perpustakaan di perguruan tinggi sudah mulai populer. Selain memang atas dasar kebutuhan mahasiswa, dekorasi ruang baca yang nyaman dilengkapi dengan free wifi zone dan mini cafe merupakan pesona tersendiri bagi perpustakaan, seperti kata pepatah, ”Ada gula, ada semut.”

Apabila konsep ini diturunkan di lingkup sekolah baik tingkat SD, SMP, maupun SMA, usaha peningkatan gemar membaca buku dapat dipastikan berhasil. Ini adalah metode pertama. Namun untuk menghindari eksklusivitas individu masing-masing, wifi bisa diganti dengan sejumlah seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Tujuannya agar siswa yang datang ke perpustakaan dengan tujuan ingin online mau mengantre dengan siswa yang lebih dulu datang. Dari aktivitas mengantre tersebut, siswa akan merasa jenuh dan biasanya mencari hal lain yaitu buku-buku bacaan yang ada di sekelilingnya untuk mengatasi rasa bosannya itu.

Metode kedua, pihak sekolah mengadakan kerja sama dengan warnet terdekat untuk menyediakan rak atau tempat strategis lain seperti dinding misalnya, yang memungkinkan diadakannya perpustakaan kecil. Sekolah menyuplai buku-buku sastra, majalah, dan koran agar dapat menarik perhatian pengunjung warnet. Setidaknya, pengunjung warnet yang sebagian besar adalah pelajar daerah sekitar tertarik untuk membaca dan melihat-lihat isi dari buku yang ada meskipun hanya sekilas. Dengan begini, selain warnetnya diuntungkan karena pengunjung maupun pelanggan yang datang bertambah, peran sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa juga tetap berjalan.

Dalam berperilaku sehari-hari, Muk Kuang dalam bukunya Think and Act like a Winner berkata, ”First we form habits, then they form us. Conquer your bad habits, or they will eventually conquer you.” Peran penting sekolah tidak hanya pada pendidikan intelektual tapi juga karakter. Sekolah yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab penuh dalam pengembangan kapasitas siswa, harus mampu mengetahui segala yang dibutuhkan peserta didik. Tidak hanya sekedar memfasilitasi, tetapi juga harus memperhatikan kondisi kekinian yang menjadi kebiasaan subyek yang menggunakannya agar dapat mempertahankan efektivitas dan eksistensi fasilitas yang ada.

Sekali lagi, ”Buku, sastra, dipercaya sebagai simbol tingkat peradaban bangsa.” Oleh karena itu, diharapkan segenap masyarakat Indonesia khususnya para pelajar mulai mencintai buku maupun sastra agar dapat memahami tingkat perkembangan peradaban bangsanya sendiri. Sumber : Okezone

Yanu Andy Fredian
Mahasiswa Jurusan Mathematika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Peserta PPSDMS Regional 4 Surabaya

Read More ..

Minggu, 27 Maret 2011

Angka Kemiskinan Tidak Bohong


JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai tuduhan kebohongan yang disampaikan sejumlah tokoh lintas agama seputar angka kemiskinan kepada Pemerintah tidaklah sepenuhnya benar.

Direktur Analisa dan Pengembangan Statistik BPS Kecuk Suhariyanto menilai bahwa tidak ada kebohongan yang disampaikan pemerintah terhadap jumlah angka kemiskinan yang mencapai 31,02 juta karena angka 70 juta yang disampaikan oleh para tokoh lintas agama seputar angka kemiskinan yang sebenarnya itu adalah angka kemiskinan ditambahkan angka orang yang hampir miskin. Menurutnya, kriteria yang dipakai oleh BPS dalam menghitung angka kemiskinan tidak pernah berubah dari standar sejak 2004.

"Kayanya enggak (bohong), data ini saya ambil (data BPS) menggunakan metodologi yang kita gunakan tidak berubah dari 2004," ujarnya dalam acara "Penanggulangan Kemiskinan dan Konsep Pembangunan RI", di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (17/2/2011).

Lebih lanjut dia mengatakan angka kemiskinan yang tidak tertuntaskan pemerintah tersebut adalah kemiskinan mikro di mana memasukkan masyarakat hampir miskin yang jumlahnya banyak di Indonesia. "Kemiskinan mikro itu dihitung ditambahkan dengan masyarakat hampir miskin, yang jumlahnya banyak di Indonesia," jelasnya.

Selanjutnya dia menambahkan BPS telah sering memberi warning kepada pemerintah kalau jumlah penduduk hampir miskin di Indonesia cukup banyak "Warning ke pemerintah jumlah penduduk hampir miskin di Indonesia tinggi, berulang ulang kita beri saran, perhatikan kebijakan terhadap penduduk hampir miskin" tambahnya.Okezone. (d12n)

Read More ..

Kelas Menengah yang Rapuh


SETIAP kali mengunjungi teman-teman lama yang bertempat tinggal di Amerika Serikat atau Eropa,sahabat- sahabat saya sering sekali mengajak ”tur keliling rumah”. Dan setiap kali tur dimulai, mereka dengan senang mengucapkan kalimat yang sama: ”This is a typical house of middle class family.” Mengapa mereka mengatakan demikian? Tentu saja mereka tidak mengklaim diri sebagai kelas atas yang kaya raya.

Mereka adalah representasi pekerja keras yang berjuang siang-malam untuk mendapatkan penghasilan layak.Suami meraih gelar doktor dalam bidang IT,bekerja di sebuah vendorperusahaanterkenal di Silicon Valley.Sedangkan istri bekerja di sebuah retail besar, menjadi kasir. Pasangan ini memiliki dua buah mobil,dua anak remaja yang masih bersekolah, dan seekor anjing yang tercatat sebagai anggota keluarga. Garasinya dilengkapi pembuka otomatis dan dapat dikontrol dari mobil. Di bagian belakang ada pekarangan kecil yang ditumbuhi sebuah pohon jeruk sunkist yang rajin berbuah. Tetapi untuk membiayai rumah dan membiayai kehidupan yang layak,suami-istri bekerja penuh waktu. Rumah yang mereka tempati bukanlah rumah milik yang dibeli tunai seperti yang banyak dimiliki kelas menengah Indonesia. Mereka membeli hipotek dengan tenggang waktu 75 tahun. Kalau pemiliknya meninggal dunia, rumah dan asetnya dilelang, pembeli baru membelinya dengan hipotek baru dan bank mendapatkan pelunasannya. Anak-anak tak berharap banyak dari warisan sebab pajaknya tinggi sekali.Lagi pula,mereka umumnya sudah mandiri. Lantas bagaimana kelas menengah di sini?

Orang Kaya Baru

Tahun lalu ADB mengumumkan, sepanjang 2002– 2008,ada 102 juta orang miskin Indonesia yang berhasil naik kelas dan bergabung menjadi kelas menengah. Sedangkan Bank Dunia minggu lalu mengumumkan, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 131 juta.

Kenaikan ini sepertinya memberi legitimasi bagi pemerintah bahwa jumlah orang miskin telah jauh berkurang. Bagi Anda yang kritis, melihat angka sebesar itu (46 persen dari jumlah penduduk), mungkin Anda akan mengatakan dengan cepat, ”tidak mungkin!” Bahkan sangat mungkin Anda pun sangat tidak senang dimasukkan sebagai kelas menengah. ”Ah, kita kan rakyat kecil saja.” Sekalipun mereka ke kampus atau ke kantor sambil berkendaraan motor atau mobil dan menjinjing dua buah telepon seluler. Begitulah kondisi kita dewasa ini. Kalau lembaga asing yang bicara tidak kita percayai dan sebaliknya apa yang kita katakan tentang diri kita, tidak diamini dunia internasional. Apalagi setiap hari berita yang kita baca hanyalah soal penggunjingan tentang kemiskinan.

Padahal, porsi iklan terbesar di media masa sudah bukan lagi soal sekolah, pertanian, atau pengobatan tradisional, melainkan perbankan, telekomunikasi, asuransi, automotif, logistik, perawatan tubuh (wajah, kulit, dan berat badan), department stores, dan iklan-iklan korporat. Akibatnya,banyak di antara kita yang menjadi serbakebingungan. Apakah data itu dapat dipercaya? Namun anehnya, kebingungan tak terjadi di China dan India.Mereka justru menyambut pengumuman itu dengan suka cita.

Akhir tahun lalu,ADB mengatakan,ada 817 juta jiwa baru yang bergabung sebagai kelas menengah di China,dan 274 juta jiwa baru di India. Jadi, Indonesia adalah negara yang kelas menengahnya tumbuh ketiga terbesar di dunia setelah kedua negara tersebut. Dengan angka sebesar itu, mereka melakukan pemasaran tempat (marketing of places) untuk kunjungan wisata dan belanja,perawatan kesehatan, kunjungan spiritual, investasi, dan tempat tinggal bagi pensiunan berkantong tebal.

Mereka ingin terus memacu kesejahteraan baru. Sedangkan di sini, kita justru meragukannya. Kita katakan diri kita rapuh, tidak mandiri, dan berpotensi miskin kembali. Mengapa seperti itu? Saya pikir, obrolan-obrolan seperti itu tidak 100 persen benar, tetapi juga tidak 100 persen salah. Obrolan-obrolan seperti itu hanya mencerminkan lemahnya tiga kepercayaan, yaitu percaya diri (self confidence), percaya pada penguasa (public trust),dan lemahnya kejujuran di hadapan Tuhan (believe in God). Believe, confidence, dan trust sama-sama berarti percaya, ketiganya saling berhubungan dan saling menopang. Ketika satu goyah, yang lain ikut terganggu. Ketimpangan ini adalah indikator kuat untuk menjadi bangsa yang kurang bersyukur, dan muaranya jelas: bangsa yang tidak bahagia. Semua terjadi karena selama kurun waktu yang panjang pemimpinnya gagal mengembalikan kepercayaan.

Dalam era single direction dan pemerintahan otoritatif di masa lalu, kepercayaan dibangun dengan kampanye seduktif melalui pencitraan yang dilakukan lewat pidato, pengarahan, sidang kabinet, iklan-iklan para menteri satu arah, dan public relations. Dalam era demokrasi sekarang, kata partisipasi menjadi kunci yang penting. Partisipasi adalah co-creation, kustomisasi (dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing). Semua diawali dari program dan produk yang benar. Tentu bukan hanya di Indonesia kelas menengah itu rapuh dan mudah terserang depresi. Di Singapura, selama bertahun-tahun warga kelas menengah juga dilanda kecemasan saat negerinya dilanda virus flu burung, SARS, dan sebagainya.

Pariwisata yang menjadi sumber penghasilan utama warga kelas menengahnya lenyap seketika, dan para pekerja sektor jasa begitu mudah jatuh miskin. Demikian pula di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa saat dunia dilanda krisis ekonomi. Mereka dengan cepat berubah menjadi penganggur yang tak mampu membayar sewa rumah dan listrik. Ekspor mereka drop dan kemampuan keuangan kelas menengah hancur. Namun, mengapa mereka tetap pede mengklaim sebagai bangsa kelas menengah dan warga negara sejahtera? Jawabnya adalah peranan negara.Seperti amanat UUD 45 di sini,mereka juga punya pasal yang berbunyi, ”Fakir miskin dan orang-orang terlantar menjadi tanggungan negara.” Bedanya, di negara-negara sejahtera, pasal itu benar-benar dijalankan, bukan cuma berlalu menjelang pemilu saja.

Setelah pemilu, kesejahteraan cuma terbagi di kalangan penguasa dan politisi. Sistem politik kita telah merampas kesejahteraan yang dijamin undang-undang yang memungkinkan bagi rakyat miskin menikmati kesejahteraannya. Anda tentu sudah membaca, berapa besar seorang gubernur terpilih harus mengembalikan modalnya saat berkuasa karena biaya ”mas kawinnya” dengan partai politik sebesar Rp40 miliar.

Belum lagi biaya kampanyenya. Lumrah kalau bagi-bagi kesejahteraan tidak menetes ke bawah. Saya masih ingat saat mengambil program doktor di Amerika Serikat hampir 20 tahun lalu.Sebagai asisten dosen dan peneliti,penghasilan yang saya terima dari kampus sebesar USD1.250 plus asuransi dan bebas uang kuliah.Karena berpenghasilan, maka saya tercatat sebagai pembayar pajak. Tetapi, istri dan anak tidak memiliki asuransi kesehatan. Kami masuk dalam kategori penduduk miskin. Kendati demikian, negara memenuhi kewajibannya.Penduduk miskin berhak menikmati sekolah gratis yang bagus, serta bebas memilih rumah sakit untuk perawatan kesehatan. Tidak perlu antre di tempat kumuh. Pasien miskin menikmati layanan yang sama dengan mereka yang mampu membeli asuransi.

Kalau kehilangan pekerjaan, negara memberi food stamp untuk membeli makanan. Di Singapura, saat pengangguran besar-besaran terjadi, negara juga mengeluarkan tabungannya. Pendidikan, kesehatan,dan kecukupan gizi menjadi perhatian penting. Dan yang lebih menarik, negara turut memasarkan sumber daya manusia (SDM)-nya yang belum mendapatkan pekerjaan. SDM asing dibatasi, pekerjaan diberi keutamaan bagi warga negara, meski perusahaan yang beroperasi adalah multinasional.

Jadi, perbaiki kepercayaan dan jalankan apa yang sudah diamanatkan undang-undang. Lalu berhentilah menjadi penguasa yang tamak. Seperti kata Gandhi,isi bumi ini cukup untuk memberi makan seluruh penduduk bumi, namun tak akan pernah cukup untuk memberi makan satu saja orang yang rakus.Okezone. (d12n).

Read More ..

Minggu, 13 Maret 2011

Ketika Politik Tak Merakyat


Kondisi perpolitikan di Nusantara akhir-akhir ini semakin semerawut dan kacau. Perpecahan koalisi yang dibangun sejak pemilihan umum (Pemilu) 2009 sudah di depan mata. Banyaknya kepentingan internal partai yang mempengaruhi kemesraan koalisi yang telah terbangun. Akhirnya partai-partai yang terlibat dalam koalisi lebih mengamankan posisinya di kekuasaan mengabaikan kepentingan bersama untuk rakyat. Puncaknya ketika Golkar dan PKS mengajukan hak angket untuk menyerang kebijaksanaan pajak pemerintah.

Koalisi yang terbangun ini pun, nampaknya hanya setengah-setengah karena demi pembagian kekuasaan. Komunikasi politik yang lemah dan kurangnya ketegasan SBY sebagai pimpinan koalisi sangat memperburuk keadaan. Hasilnya, kinerja pemerintahan tergantung pola interaksi yang terbangun dalam koalisi.
Kondisi koalisi yang berakibat kepada stabilitas pemerintahan inilah yang membawa rakyat semakin tenggelam ke dalam apatisme politik. Rakyat semakin jengah dengan tingkah laku para politikus. Kejengahan dan bosannya rakyat mengahapi dinamika seperti ini menurunkan kepercayaan pada pemerintah. Rakyat pun semakin jauh dari minat terhadap politik, padahal yang dibutuhkan rakyat hanya keadaan yang lebih baik dan stabil.

skenario terburuk adalah SBY melakukan perombakan pemerintahan yang dimulai dari jajaran menteri dibawahnya. Menteri dari partaii yang berani macam-macam dan mengancam kemesraan koalisi siap dibuang di tengah jalan. Jika SBY melakukan hal tersebut rakyatpun tidak akan peduli dengan siapa dan dari partai mana menteri tersebut. Karena rakyat tidak akan menilai asal menteri tetapi kinerja yang dilakukan. Akan tetapi, bagaimanapu keinginan rakyat tetap saja terpnggirkan karena elit-elit politik tetap berusaha membagi “kue kekuasaan”.

Jangan lupa konsep pemerintahan Indonesia dibangun dari sistem demokrasi. Menurut Marx, negara (pemerintahan) hanyalah sekadar panitia yang mengelola kepentingan kaum berkuasa secara menyeluruh, karenanya politik sebenarnya berkedudukan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Konsepsi demokrasi menurut Phillippe C. Schmitter dan terry Lynn karl, demokrasi merupakan sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah dipilih.

Menanggapi semua kondisi yang terjadi seperti sekarang ini mutlak mengembalikan orientasi politik dan pemerintahan kepada rakyat. Bagaimanapun rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam demokrasi dan pemerintahan yang berdiri sebagai amanah rakyat. Kepentingan rakyatlah yang paling penting untuk dibela dan didahulukan. Selain itu, yang dilakukan dalam melakukan edukasi politik yang santun dan bertanggung jawab kepada generasi penerus. Masa depan bangsa ditentukan oleh generasi yang terdidik di masa sekarang. Sumber: Okezone. (d12n)

Chandra Agie Yudha
Mahasiswa Manajemen
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Read More ..

Minggu, 06 Maret 2011

Ironi dalam Pendapatan per Kapita USD3.000


Dengan memasuki pendapatan per kapita USD3.000, Indonesia memasuki kelompok negara berpenghasilan menengah. Namun, di saat secara nasional kita mencapai pendapatan per kapita USD3.000. Di sisi lain angka kemiskinan tidak turun secara signifikan.

Angka kemiskinan kita pada 1996 sebesar 34 juta orang,lalu tetap sama pada tahun 2008 dan menjadi 31 juta pada 2010. Menjadi pertanyaan besar, siapa yang menikmati pertambahan pendapatan sejak 1996 atau sejak era reformasi? Dan lebih penting lagi, mengapa hal ini terjadi dan bagaimana memperbaikinya? Di negara liberal inti, kapitalisme membawa pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Ketimpangan juga terjadi di sana, tetapi rakyat dapat menerima ketimpangan tersebut.

Boumol, penulis buku Good Capitalism and Bad Capitalism, menggambarkan kapitalisme seperti gelombang pasang yang bergulung sehingga yang terbawah pun ikut terangkat ke atas. Negara liberal inti menjamin masyarakat terbawah dengan mekanisme pasar yang mendorong munculnya banyak bisnis dan lapangan kerja serta upah minimum yang sangat tinggi. Pada bisnis-bisnis kecil, pekerja dan pengusaha sering kali memperoleh keuntungan dan upah yang seimbang.

Di samping mekanisme normal tersebut, negara liberal inti menjalankan program sosial atau program welfare yang meliputi sistem pensiun yang meng-cover sangat luas, sistem asuransi kesehatan nirlaba, dan berbagai safety net untuk kelompok miskin dan korban bencana.

Program sosial kita memang tidak sebaik di negara inti. Pertanyaannya, mengapa gelombang pertumbuhan selama 15 tahun liberalisasi tidak dapat mengangkat kelompok terbawah?

Mengapa Profil Kemiskinan Tak Berubah?

Mengambil inspirasi dari Asia, khususnya dari China yang samasama berpenduduk besar dan memiliki wilayah yang luas, kemajuan Negeri Tirai Bambu yang monolitik itu dirancang dengan kepemimpinan yang kuat atau dapat dikatakan kemajuan dari atas. Kemajuan Indonesia dicapai dengan ideologi politik dan ekonomi yang terlalu liberal.

Pertama, kepemimpinan yang lemah dengan absennya partai mayoritas, kepemimpinan politik menjadi dinamis internal di mana lebih dari setengah energinya dihabiskan untuk mengurus kepentingan penyehatan koalisi dan sibuk menghadapi gangguan parlemen yang tentu saja tiada habisnya.

Rakyat dibiarkan danmenjadidewasadalammemecahkan masalahnya. Indonesia adalah negara penuh berkah. Di samping sumber daya alam yang melimpah, dikaruniai masyarakat yang baik, sabar, dan sebenarnya ulet.

Ideologi yang liberal baik di bidang politik maupun ekonomi menyebabkan kemajuan penuh kemandirian atau tanpa arahan negara. Kebaikan dari kemajuan seperti itu adalah kemandiriannya yang tinggi, mencari network dan celah bisnis dengan mengandalkan kemampuannya sendiri.

Kelemahannya adalah banyak korban karena sifat dari ekonomi yang kita jalani selama ini adalah kebebasan siapa saja untuk masuk suatu pasar. Kelompok marginal yang terdiri atas pemain yang kurang dinamis akan terdepak dari pasar yang terus menerus terbuka bagi pemain baru yang sering kali lebih kokoh.

Kejenuhan pasar menyebabkan persaingan yang superketat dan menyebabkan gelombang tekanan keluar dari pasar. Lihatlah berapa banyak investasi pompa BBM dari kota Solo dan Yogyakarta sepanjang 60 km boleh dikatakan terdapat pompa BBM pada setiap 500 meter.

Investasi apotek juga ditemukan di setiap beberapa ratus meter di kota menengah dan bahkan di ganggang kecil. Akibatnya banyak investasi yang menjadi fuso. Secara nasional, cerita di atas dapat dilihat sebagai menurunnya pertumbuhan.

Itulah salah satu sebabnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca- Reformasi menjadi moderat, di sekira angka 4–5 persen per tahun. Pada masa Orde Baru, seperti China pada saat ini, kapitalismenya diarahkan oleh kepemimpinan negara yang kuat dan juga pembatasan pemain dan pengarahan dengan semi perencanaan.

Akibatnya, investasi yang ditanamkan para pelaku bisnis memperoleh semacam jaminan pasar. Modal yang terbatas sebagai ciri negara sedang berkembang menjadi efektif ditanamkan di sektor-sektor dengan pasar tertentu, tetapi dengan pemain yang terbatas.

Bentuk pasar yang oligopolistik memang tidak sampai merugikan konsumen, tapi di sisi lain menyebabkan satu sektor bisnis dapat memperoleh laba supernormal, mengakumulasi kapital, dan menanamkannya kembali dalam bentuk ekspansi usaha, bahkan mendukung penerapan teknologi atau pengembangan produk baru.

Kepemimpinan Kuat

Berbeda dari China yang memiliki kepemimpinan kuat dan relatif bersih, oligopoli dan lisensi di Indonesia selama orde Baru menyebabkan kolusi di mana lisensi diberikan dengan suap dan korupsi. Kalau begitu, kata kunci untuk memperoleh pertumbuhan yang tinggi, khususnya pada negara sedang berkembang yang memiliki akumulasi kapital terbatas (kapitalisme awal/muda), pertama, perlu diciptakan kepemimpinan yang kuat.

Kepemimpinan yang kuat dapat dicapai dengan pengaturan sistem politik yang memungkinkan adanya mayoritas. Kedua, perlu dihidupkan kembali semiperencanaan yang mengarahkan investasi dengan perhitungan pasar yang rasional, pasar-pasar yang kompetitif terkendali atau oligopoli dengan pemain yang cukup banyak, hukum yang tegas dan dapat menjamin menghilangnya korupsi.

China diuntungkan dengan titik berangkat komunisme yang memiliki capital endowment, misalnya tanah yang lebih merata. Sementara kita selama ini tidak mau mendengar soal hal tersebut. Monopoli dan oligopoli natural tanpa arahan negara selama 15 tahun terakhir memperoleh kekuatannya secara alami dan cenderung menjadi lebih liar.

Absennya semiperencanaan menyebabkan dirambahnya semua sektor oleh para pemain besar. Sebagai contoh, masuknya industri retail modern sampai di wilayah kecamatan dan perdesaan seperti akar yang merambat jauh yang menyerap potensi ekonomi daerah menuju pusat.

Inilah sebagai salah contoh yang menyebabkan ketimpangan yang lebih tinggi di Indonesia dewasa ini. Absennya inovasi karena kalah bersaing dengan negara maju dalam bidang riset menyebabkan lapangan bisnis dan lapangan pekerjaan lama diperebutkan dengan masuknya pemain baru dengan modal, pengetahuan, dan teknologi yang lebih baik.Gambaran sebagaimana disebut di atas sudah terjadi karena pada saat Reformasi menumbangkan Orde Baru harus diakui bahwa power yang dimiliki saat itu tidak terduga dan boleh dikatakan tanpa perencanaan.

Perubahan kita boleh dikatakan sangat liar dan tidak dapat mengambil manfaat yang baik dari sejarah perkembangan kita sendiri. Orde baru, bagaimanapun, berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada masa yang sangat lama.

Orde baru juga dapat mengatasi kemiskinan dari titik yang lebih parah saat kelaparan dan hanger odeem atau penyakit kaki gajah. Reformasi kita agak salah arah karena dilaksanakan dalam situasi euforis atau kurang tenang. Sekarang adalah saatnya memikirkan kembali dengan mengambil pelajaran dari sejarah kita sendiri dan mengomparasikan dengan negara lain.(*)
Sumber: OKezone
Prof Bambang Setiaji
Rektor Universitas
Muhammadiyah Surakarta(Koran SI/Koran SI/ade)

Read More ..

Aneh.. Impor Daging Besar Konsumsi Daging Rendah


JAKARTA- Meskipun banyak melakukan impor daging, namum pada kenyataannya Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi daging dan buah paling rendah di ASEAN.

"Walau pun Indonesia adalah negara tropis, tapi masyarakatnya merupakan pengonsumsi terendah di sektor daging dan buah," ujar tenaga ahli Pondok Pesantren Sunan Drajat Dr Tjuk Eko Hari Basuki dalam acara seminar Solusi Ketahanan Pangan, Jakarta, Minggu (5/3/2011). Basuki menjelaskan untuk konsumsi daging Indonesia hanya tercatat satu digit,ini berbeda jauh dengan negara ASEAN lainnya yang sudah mencapai dua digit.

"konsumsi daging Indonesia hanya 5,5 kilogram per tahun, berbeda dengan Filipina konsumsi daging mencapai 19,0 kilogram per tahun, berbeda jauh juga dengan Thailand yang mencapai 23,3 kilogram per tahun. Di bandingkan Malaysia, konsumsi daging Indonesia tertinggal lebih jauh lagi, Malaysia pertahun bisa mencapai 43 kilogram per tahun," tuturnya.

Sedangkan untuk konsumsi buah per tahun, Indonesia memang sudah memasuki dua digit, namun masih kalah jika dibandingkan dengan Filipina atau pun Malaysia.

"Konsumsi buah per tahun Indonesia hanya mengonsumsi 23,1 kilogram per tahun, berbeda dengan Filipina yang bisa mencapai 55,0 kilogram per tahun. Sedangkan Thailand konsumsinya mencapai 30,0 kilogram per tahun, Malaysia sendiri mencapai 49,0 kilogram per tahun,"

Meski demikan, Indonesia tercatat sebagai negara pengonsumsi telur dan sayuran Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN. Untuk konsumsi sayur per tahun Indonesia menghabiskan 49,0 kilogram per tahun, Filipina sendiri mengonsumsi 34,2 kilogram per tahun, Thailand mengonsumsi 41,1 kilogram per tahun, dan Malaysia sendiri mengonsumsi sebanyak 47,2 kilogram per tahun.

Untuk telur Indonesia mengonsumsi sebanyak 64,0 kilogram per tahun, Filipina mengonsumsi 31,7 kilogram per tahun, Thailand mengonsumsi hampir sama dengan Filipina yakni 31,1 kilogram per tahun, sedangkan Malaysia mengkonsumsi sebanyak 41,9 kilogram per tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya Menteri Keuangan Agus Martowardojo di kantornya, mengaku heran dengan capaian realisasi impor daging pada awal tahun ini yang telah mencapai 10 ribu ton. Padahal pemerintah menetapkan kuota impor daging untuk tahun ini hanya 50 ribu ton.

“Sekarang kuotanya tahun 2011, 50 ribu ton sampai dengan Januari saja, saya lihat datanya sudah masuk 10 ribu ton dalam waktu 1 bulan sudah 10 ribu ton. Yang menarik itu tahun lalu, impor daging itu kuotanya 76 ribu. Tapi kita realisasinya 120 ribu ton,” ujarnya.Sumber: Okezone

Read More ..

Selasa, 22 Februari 2011

Cermat Memilih Produk Syariah


JAKARTA - Menjamurnya lembaga keuangan syariah termasuk asuransi, membuat nasabah saat ini memiliki banyak pilihan produk asuransi.

Namun, apakah yang membedakan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional umumnya? Secara umum, asuransi syariah tidak 'menjual' penggantian risiko kepada nasabah seperti dilakukan asuransi pada umumnya.

"Kita tidak menjual risiko, tapi kita sharing risiko," ujar Shariah Business Group Coordinator PT Asuransi Astra Syariah Tati F Purnomo, di Gedung Annex Sindo, Jakarta, Rabu (20/10/2010) sore. Meskipun bertajuk 'syariah', asuransi ini banyak juga menjaring nasabah dari kalangan non-muslim selain tentunya kalangan muslim sendiri yang peduli pada nilai-nilai syariah Islam. Pada intinya, dalam memilih asuransi disesuaikan dengan kebutuhan nasabahnya.

"Concern kita itu pada nasabah yang compliance pada syariah Islam, selain itu mereka yang rasional selama sepakat dengan produknya. Banyak juga yang non-muslim juga customer-nya, pada dasarnya mereka memilih sesuai dengan kebutuhan," jelas Tatik.

Untuk itu dia memberikan sedikit tips bagi nasabah dalam memilih asuransi. Di antaranya yaitu dengan melihat profil perusahaan secara menyeluruh seperti kondisi keuangannya. Hal itu diperlukan untuk melihat kemampuan perseroan untuk membayar klaim asuransi.

"Yang harus diperhatikan dalam memilih asuransi syariah, lihat kekuatan keuangannya, financial aspeknya harus diperhatikan, jangan sampai nanti tidak sanggup membayar klaim," . Sumber: OKEZONE

Read More ..

Senin, 14 Februari 2011

Sistem KRS T.A 2010/2011 yang Kurang Efektif.

Gambar antrian di kantor pusat untuk mengambil kartu KRS dan PIN.
Seperti sudah menjadi budaya dalam sebuah pembayaran SPP/Registrasi terjadi antrian seperti yang ada dalam gambar yaitu di Universitas tercinta kita ini Unijoyo. Mulai dari kegiatan mengambil KHS yang harus antri, Mengambil blangko BTN di cendana juga harus antri dan terkadang harus menunggu karena kehabisan blangko dan berikutnya antri mentranfer uang  di BTN cendana dengan urutan sampai ratusan orang. Tidak hanya sampai disitu seperti yang terjadi kemarin tanggal 14-02-2011 semua anak sudah mendapat nomor antri dari pihak satpam BTN hingga mencapai ratusan antrian, namun yang terjadi tidak lama kemudian nomor antri itu sudah tidak berlaku lagi tidak jelas alasannya dari satpam BTN namun ada yang bilang nomor antrinya mudah dipalsukan oleh mahasiswa yang nakal (katanya….!!!). Setelah itu diganti dengan sistem pembayaran antri langsung berbaris ke belakang, namun yang terjadi malah desak-desakan antar mahasiswa Unijoyo pun tidak terhindarkan dan parahnya tidak dipisahkan antara baris antrian antara laki-laki dan perempuan dan yang terjadi saling dorong mendorong pun terjadi. Tidak lama kemudian terjadi perubahan kebijakan lagi dengan memakai nomor antrian lagi, tapi kali ininomor antrian tersebut dikasi tanda tangan dari pihan BTN yang perlu disesalkan kasihan para mahasiswa yang sudah antri desak-desakan yang sudah ada di depan dengan demikian dia harus dibatalkan urutan antrinya dan harus mengambil nomor antrian lagi dan bahkan ada mahasiswa yang melakukan pembayaran ke BTN bangkalan. Namun alhamdhulilah dengan dikasihnya nomor antrian yang kedua ini sistem pembayaran di BTN ini menjadi kondusif. Setelah sukses mentransfer dari BTN, itu kita masih kurang , kita masih harus disuruh antri lagi di kantor pusat untuk mengambil kartu KRS dan PIN huftttttt capek kawan.

 Gambar BTN kampus yang dikasi Terop.

Hal yang perlu disesalkan tidak ada pemberitahuan terjadi perubahan tempat pembayaran dai BTN kampus ke BTN cendana, sehingga membuat mahasiswa harus bolak-balik ke kampus lalu ke BTN cendana berulang-ulang kali, apalagi yang naik motor akan dikenakan biaya parkir ketika di BTN cendana dan juga kasihan yang jalan kaki, dan jugak apagunanya BTN kampus dikasi terop itu…!!!!!!!!?????.
Sampai kapan sistem pembayaran yang kurang efektif ini akan berakhir, mulai dari antri mengambil KHS, antri mengambil blangko BTN, antri mentransfer uang, antri mengambil KRS, antri mengambil PIN dan antri pemrograman pelajaran secara Oline subhanallah…!!!!!!!.
Seharus agar kegiatan KRS-an ini bisa berjalan efektif dilakukan sebuah manajemen dimana dibuat gelombang pendaftaran menjadi dua gelombang atau tiga gelombang, selain itu kegiatan pengambilan KRS dan PIN seharusnya tidak di sentralisir di kantor pusat, namun di serahkan ke masing-masing fakultas sehingga antrian yang panjang tidak akan terjadi seperti kamarin. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi di tahun-tahun berikutnya yang bisa menyengsarakan adek-adek mahasiswa dan mahasiswi…amien.

Read More ..
HTML Comment Box is loading comments...