Berbuat kesalahan itu kekurangan manusia, namun belajar dari kesalahan itu kelebihan manusia....
Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2011

Revolusi, Mungkinkah?


Layaknya penyakit menular, maka Indonesia adalah salah satu calon pasien yang terlalu mudah ketularan penyakit. Entah waktu kecil bangsa ini tidak diberi suntikan “immunisasi” yang setidaknya bisa membentengi dan memberi kekebalan tubuh rakyatnya dari berbagai virus/bakteri yang coba menyerang. Yang pasti bangsa ini paling mudah terprovokasi oleh hal-hal baru yang belum tentu baik untuk kita. Dinamika bom di tanah air juga penyakit menular yang datang dari timur tengah yang merasuki minoritas penduduk negeri ini. Pembenaran dalam rangka Jihad pun menjadi slogan penting. Antipati terhadap pihak asing ternyata juga memakan korban anak bangsa sendiri. Penyakit jenis ini agaknya sudah tergolong akut. Dan mungkin sudah dalam level stadium akhir.

Buktinya, ditangkap satu muncul lagi yang baru. Tertembak satu tak lama kemudian muncul lagi kader militan baru. Polri pun sebagai dokter tak serius seratus persen membasmi. Penumpasan hanya akan dilakukan bila ada isu-isu nasional yang mendiskreditkan presiden. Alhasil, prestasi pembumihangusan teroris di bumi nusantara dicap sebagai upaya pemerintah mengalihkan isu. Cerita penyakit menular yang dikemas dalam paket bom ini hanya prolog semata dalam tulisan kali ini. Ada penyakit menular penting lainnya yang mungkin lebih enak untuk kita simak yaitu revolusi.

Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya. Di satu masa, revolusi memang ada baiknya. Baik, selama orientasinya adalah kesejahteraan rakyat dan bukan sekadar atas nama rakyat.

Seperti penyakit menular, dewasa ini wabah berbahaya ini lagi berusaha menjangkiti siapa saja yang tidak memiliki kekebalan tubuh. Bedanya, untuk pertama kalinya virus yang bernama revolusi ini selalu menjangkiti rakyat biasa. Setelah berhasil, perlahan tapi pasti ia mulai menggerogoti kalangan intelektual yang notabenenya antipati dengan kebijakan pemerintah di seluruh dunia khususnya Asia. Seperti halnya Tunisia, Mesir dan sekarang Libya, slogan revolusi telah berhasil menumbangkan rezim yang berkuasa lebih dari tiga dekade. Tapi, harus kita garis bawahi. Revolusi yang terjadi dibeberapa negara Timur Tengah, murni digerakkan oleh rakyat.

Kini, virus revolusi mulai mewabah di Indonesia. Mungkin hanya selang beberapa jam sejak kerusuhan mewarnai Tunisia dan Mesir waktu itu, para tokoh-tokoh bangsa ini pun latah mewacanakan perlunya revolusi di tanah air. Entah hanya sekadar ikut tren Timur Tengah atau sebatas menakut-nakuti pemerintah, yang jelas isu revolusi yang coba didengungkan oleh beberapa pihak berlalu begitu saja tanpa bekas. Lucunya lagi, wacana itu pun selesai begitu saja beberapa menit setelah si penggagas menyampaikan gagasan revolusinya. Padahal, dilihat dari semangatnya berorasi dan berpidato, sepertinya revolusi benar-benar akan terjadi.

Pascatragedi Mesir setidaknya di tanah air sudah ada tiga pihak yang coba mendengungkan pentingnya revolusi. Sebabnya pun beraneka ragam. FPI misalnya, mengancam akan melakukan revolusi bila pemerintah serius ingin membubarkan ormas anarkis. Kekecewaan juga dilontarkan oleh para purnawirawan TNI dan Polri yang bergabung dalam Dewan Penyelamat Negara (DEPAN). Mereka menganggap SBY telah mempermalukan TNI karena dinilai lamban dan tidak peduli akan nasib TNI. Yang lebih parah lagi adalah apa yang dilakukan Permadi (mantan politisi PDI-P yang pindah ke Gerindra). Dalam salah satu mimbar bebas, Permadi menganjurkan membunuh setiap pejabat yang menyengsarakan rakyat dan mengajak seluruh komponen bangsa terutama mahasiswa untuk melakukan revolusi. Semua peristiwa di atas dipicu oleh demam revolusi yang melanda Timur Tengah.

Beranjak dari keadaan diatas, maka penyakit menular yang bernama revolusi yang awalnya menjangkiti rakyat Timteng, akhirnya masuk juga kewilayah NKRI. Pertanyaanya adalah apakah dengan demikian Indonesia akan mengalami revolusi? Jawaban tegasnya adalah tidak. Kenapa tidak? Karena sebagai negara yang telah berpengalaman melahirkan reformasi, jutaan rakyat negeri ini telah bijak memamahbiak situasi. Rakyat (yang paling awam sekalipun) telah tahu mana kepentingan bangsa dan negara dan mana kepentingan pribadi atau terselip kepentingan golongan. Rakyat juga sudah tahu mana murni untuk perjuangan atau hanya sekedar mengikuti trendy. Dulu, ketika reformasi bergulir aksi jutaan massa merupakan hal langka di negeri ini.

Kelangkaan itu pulalah yang menjadikan siapa saja merasa gamang dan ketakutan akan kekuatan rakyat. Namun, setelah genderang kebebasan ditabuh, hak berbicara dan berpendapat dilindungi, aksi mahasiswa dan kelompok tertentu dipandang biasa saja dan dianggap sebagai bagian dari demokrasi oleh pemerintah. Hemat kita, mata dan pikiran kita sudah sering digambarkan aksi ribuan massa di depan istana meminta SBY turun. Namun, mata kita juga turut menyaksikan hingga pembaca membaca tulisan ini SBY tetap eksis dalam kepemimpinannya.

Kenapa begitu? Jawabannya kita terlalu banyak berbicara. Kita terlalu banyak aksi dijalanan dan kita terlalu banyak mengkritisi. Dan dampaknya, semua berlalu begitu saja tanpa hasil apa-apa. Apa yang dulunya luar biasa, kini menjadi biasa saja. Dan fenomena ini telah bisa menjawab agaknya bangsa ini masih jauh dari gejolak revolusi setidaknya hingga sepuluh tahun yang akan datang.

Rakyat sudah paham, ketika revolusi bergejolak, rakyat akan dipukuli, ditangkap dan ditembaki. Sedangkan para tokoh tak pernah ikut memegang spanduk sekali pun atau turut melemparkan sebuah batu. Para tokoh hanya akan nampak sesekali di podium berkoar-koar sementera rakyat dijalanan dijejali oleh pentungan dan suara tembakan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, setelah revolusi berhasil para tokoh berlomba menjadi penguasa. Setelah menjadi penguasa nyatanya ia hanya melanjutkan pola pikir pendahulunya yang dulu ia minta untuk lengser. Jadi, kenapa kita harus repot mikirkan revolusi?

Samsul Pasaribu
Penulis adalah presiden mahasiswa Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) Bandung dan Ketua Umum PB Gerakan Mahasiswa Sibolga-Indonesia (Germasi). Sumbe: OKezone

Read More ..

Senin, 28 Maret 2011

Membangun Peradaban dengan MEMBACA


BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al Alaq 96 : 1-5)
Membaca adalah perintah pertama Tuhan. Perintah ini pertama kali datang perintah-perintah yang lain. Perintah ini datang sebelum perintah sholat, zakat, puasa dan haji. Perintah pertama tuhan pada Nabi ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Kenapa perintah membaca dijadikan awalan dan pijakan? Saya pikir ini yang penting untuk diungkap, dicerna, dimaknai oleh kita umat yang diperintahkan pertama kali untuk membaca.

Baca, baca, baca, baca, baca... Itulah kunci awal memahami hakekat yang lebih besar dan luas.

Kita mungkin sudah lupa kapan kita benar-benar bisa mengeja kata-demi-kata. Tapi kita pasti pernah merasakan bagaimana belajar membaca yang dimulai dari belajar alfabet, dari huruf A hingga Z. Pelajaran berikutnya, merangkai huruf. Biasanya dimulai dari huruf-huruf hidup yang tidak perlu dimatikan di akhir atau di tengah kata atau kalimat. “Ini budi” adalah salah satu contoh yang paling kita ingat dalam semesta pelajaran membaca.

Tapi tahukah kita bahwa dengan membaca kita sebenarnya sedang memulai pelajaran penting tentang sebuah peradaban? Dengan membaca kita sedang masuk dalam ruang rahasia yang penuh dengan pengetahuan. Ruang yang diciptkan untuk kita agar kita pandai bersyukur terhadap segala nikmatNya. Dengan membaca kita diajak untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Sehingga kita tidak mengulangi kesalahan orang-orang terdahulu sebelum kita.

Dari proses belajar membaca per huruf, lalu per kata, lalu per kalimat, hingga pada akhirnya kita bisa membaca buku tebal yang berisi aneka pengetahuan, novel, atau karya agung penulis masa lampau. Kita sesungguhnya tidak boleh melupakan para pengajar atau pendidik kita di TK atau SD yang pertama kali mengajarkan huruf pada kita. Sebab, karena merekalah kita mengetahui huruf, bisa membaca, dan mengenal pengetahuan yang sangat luas ini.

Pengajaran pertama adalah membaca? Dan itu adalah pengajaran tuhan bagi manusia!
Ingatlah, tuhan juga memberikan kemampuan berpikir bagi manusia. Kemampuan yang tidak setiap makhluk mendapatnya. Kemampuan yang membuat manusia bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui malaikat. Kemampuan yang juga terkadang dipergunakan manusia untuk menyusun rencana-rencana jahat.

Pernahkah kita berpikir mendalam, kenapa tuhan memerintahkan kita untuk membaca. Adakah karena hanya agar umat Islam menjadi kaum yang pandai? Ataukah ada alasan lain ?

Yang jelas, dengan membaca, baik yang tertulis maupun tidak tertulis sebagai teks. Kita akan memiliki pengetahuan yang luas. Dengan pengetahuan yang luas kita akan sanggup memilah dan memilih serta menentukan yang sekiranya baik. Dengan keluasan ilmu pengetahuan, seorang manusia akan memiliki kecakapan untuk bijak dan memiliki toleransi yang kuat dalam menyikapi setiap fenomena kejadian.

Dengan bekal ilmu pengetahuan seorang manusia akan lebih mudah mengayuh hidup. Karena dengan ilmu seseorang tahu cara yang lebih efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan ilmu juga manusia menjalankan ibadah dengan benar. Karena kekuatan ilmulah seseorang akan dipandang sebagai ahli dalam spesifikasi keilmuaan tertentu. Bahkan karena ilmu pulalah Allah Swt akan meninggikan derajat anak manusia.

Dengan membaca kita akan mendapatkan ilmu yang memperkaya cara pandang, membuat pola pikir yang rasional, luas dan berwawasan. Karena dengan ilmu kita akan mudah menggapai apa yang kita inginkan. Ilmu adalah senjata bagi manusia yang ingin sukses di dunia dan akhirat. Kenapa itulah perintah membaca diletakkan di awal, sebagai permulaan perintah bagi umat manusia.

Erna Tigayanti
Mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang
Okezone. (d12n)

Read More ..

Bersatu Lawan Terorisme


Pada akhir-akhir ini masyarakat dibuat panik dengan adanya teror bom yang melanda sebagian wilayah di tanah air. Awalnya teror bom buku dikirimkan ke sejumlah tokoh yang dianggap berseberangan dengan para teroris. Seperti Ulil Abshar Abdalla (aktivis JIL), Gorries Mere (Kalakhar BNN dan pernah memimpin Tim Densus 88 Mabes Polri), serta Yapto Soerjosoemarno (Ketum Pemuda Pancasila. Ancaman berupa paket bom juga dikirimkan ke rumah beberapa tokoh lainnya. Teror bom yang dikirimkan ke sejumlah tokoh tersebut tentu menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Ada yang mencurigai ini sebagai upaya pengalihan isu semata. Ada yang mencurigai ini sebagai upaya adu-domba terhadap pihak-pihak tertentu. Ada pula yang berkeyakinan bahwa ini semua murni merupakan ulah para teroris pemain lama.

Terlepas dari spekulasi yang berkembang selama ini, bagaimanapun teror bom tersebut sangat meresahkan masyarakat. Mungkin saja saat ini para pelakunya sedang girang menertawakan Pemerintah dan aparatnya yang lagi-lagi “hampir kecolongan”. Juga menertawakan masyarakat yang terus dihantui oleh rasa takut dan kepanikan yang akut. Karena teror paket bom yang mereka lancarkan belakangan ini terbukti ampuh menciptakan kecemasan dan rasa saling curiga di dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai imbasnya kini masyarakat menjadi paranoid dan negative thinking. Ketika paranoid dan kepanikan melanda membuat masyarakat tidak mampu berfikir secara logis. Kecurigaan yang terus berkembang dikhawatirkan juga bisa memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Pada akhirnya bangsa ini pun akan mudah diadu-domba oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Untuk itu sebaiknya masyarakat harus tetap tenang sembari berfikir dengan logika akal sehat. Kewaspadaan juga sangat perlu ditekankan, namun harus tetap proporsional.

Menimbang semua itu maka rasa keamanan dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat mendesak untuk segera dipulihkan kembali. Aparat kepolisian harus mampu usut tuntas siapa dalang dan pelaku dibalik semua itu. Dan mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, bersikap tenang serta berfikir logis. Media juga perlu berperan aktif dalam menyampaikan pemberitaan yang proporsional dan tidak dibesar-besarkan. Kini saatnyalah seluruh komponen bangsa turut mengambil peran dalam upaya pemberantasan terorisme di tanah air. Mari kita satukan tekad untuk berjuang bersama melawan terorisme mulai dari sekarang!
Cipto Wardoyo
Mahasiswa Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
Okezone. (d12n)

Read More ..

Rabu, 09 Maret 2011

Hukum "Rimba" Indonesia


BERBAGAI kasus penegakan hukum yang terjadi di tanah air belakangan ini menunjukan fakta yang amat memprihatinkan. Penegakan hukum Indonesia masih setengah-setengah dan seringkali mengabaikan nurani. Selain itu juga terkesan lambat, tebang-pilih, dan masih bisa dipolitisasi.

Hukum yang semestinya menjamin tegaknya keadilan dan mengayomi masyarakat, justru terkesan menjadi hukum “rimba”, yang lebih kuatlah yang akan menang. Lebih kuat di sini dapat diartikan lebih kuat secara materi, ekonomi, maupun politik (kekuasaan), dsb. Sementara kaum miskin seringkali menjadi korban atas lemahnya supremasi hukum di negeri ini. Ironis sekali, kita hidup di negara hokum, namun begitu mahal harga sebuah keadilan.
Tidak kunjung tuntasnya kasus Gayus dan Bank Century menunjukkan betapa masih lemahnya supremasi hukum di Indonesia. Diskriminasi dalam penegakan hukum pun begitu nampak jelas dalam beberapa penanganan kasus. Dan semua itu tentu tidak terlepas dari buruknya mentalitas beberapa oknum aparat penegak hukum itu sendiri.

Beberapa oknum aparat penegak hukum tersebut nampaknya masih belum sepenuhnya menyadari akan kewajibannya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Sehingga yang terjadi bukanlah tegaknya rasa keadilan dan terwujudnya supremasi hukum di negeri ini. Melainkan hukum yang selalu berpihak kepada golongan atas dan seolah buta terhadap golongan bawah atau kaum miskin.

Ibaratnya, hukum di Indonesia saat ini bak sebuah pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sehingga tidak usah heran jika para koruptor yang telah menggerogoti kekayaan negara ini justru bisa bebas piknik dengan santainya di luar negeri. Bahkan dalam kasus tersebut terbukti beberapa oknum aparat penegak hukum berhasil disuap oleh seorang “Super Gayus”.

Ini tentu menjadi sebuah “pekerjaan rumah” yang cukup berat bagi pemerintahan Presiden SBY khususnya para aparat penegak hukum di negeri ini. Hukum harus ditegakkan sebagaimana mestinya dan didasari dengan hati nurani. Supremasi hukum di Indonesia harus segera ditegakkan kembali demi terwujudnya rasa keadilan untuk semua. Rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, entah itu golongan atas maupun kaum marginal.

Akhirnya langkah awal yang sangat urgen dilakukan pemerintah yaitu perbaiki dulu mentalitas para aparat penegak hukum di negeri ini. Sebab aparat penegak hukum yang bermental penjilat adalah musuh dalam selimut yang justru bisa meruntuhkan supremasi hukum yang telah terbangun selama ini. Jangan ada lagi hukum rimba di Indonesia. Kini saatnya kita bangkit bersama untuk aktif mengawasi dan mendorong tegaknya supremasi hukum di NKRI. Semoga

Cipto Wardoyo
Mahasiswa Filsafat dan Sosiologi Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sumber Okezone. d12n

Read More ..
HTML Comment Box is loading comments...