Berbuat kesalahan itu kekurangan manusia, namun belajar dari kesalahan itu kelebihan manusia....

Rabu, 09 Maret 2011

Kebutuhan Meningkat, Saatnya Beralih ke Produk Investasi


Sebagian besar masyarakat Indonesia, masih menjadikan menabung sebagai pilihan dalam menyimpan uang. Hanya kalangan menengah ke atas yang telah menyisihkan dananya untuk dimasukkan dalam produk investasi.

Presiden Direktur PT Samuel Aset Managemen Agus B Yanuar menjelaskan, perubahan mindsetsangat perlu dilakukan agar masyarakat tidak hanya menyimpan uang di tabungan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh masyarakat jika menanamkan uangnya di produk investasi, di antaranya potensi keuntungan yang lebih besar. Tingkat keuntungan yang bisa diraih bisa mencapai 30 persen per tahun,” ujar Agus saat dihubungi, kemarin.

Menurut Agus, tabungan dan investasi adalah dua hal yang berbeda. Investasi bermanfaat melengkapi tabungan, di mana berfokus pada tingkat pengembalian. Sedangkan tabungan fokusnya pada proteksi atas pokok investasi.

Investasi periodenya jangka panjang, namun tabungan periodenya hanya jangka pendek. Jika investasi tujuannya adalah financial atau pembiayaan, maka tabungan bertujuan sebagai likuiditas. Kemudian investasi risikonya adalah fluktuatif, sementara tabungan relatif stabil atau rendah.

Dalam berinvestasi ataupun menabung, lanjut dia, masyarakat perlu menentukan tujuan. Karena menentukan tujuan akan dapat memberikan dampak bagaimana membangun perencanaan financial dan investasi, sekaligus mempunyai ekspektasi yang realistis.

Perencana keuangan Financial Consulting Eko Endarto mengatakan, saat ini waktu yang tepat untuk mengubah mindset masyarakat dari menabung menjadi berinvestasi. Karena menurutnya, masa depan semakin sulit diprediksi dan bila hanya mengandalkan tabungan saja.

“Akan sulit bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang semakin besar di masa mendatang. Misalkan saja biaya pendidikan yang setiap tahunnya cenderung naik 15 persen hingga 20 persen,” kata dia.

Jika hanya mengandalkan tabungan, tutur Eko, masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pasalnya tingkat keuntungan yang diperoleh melalui tabungan tidaklah besar yakni sekira dua persen per tahun.

Malah ada kecenderungan, keuntungan yang diperoleh masyarakat relatif lebih rendah daripada tingkat inflasi. Itu artinya, secara nilai, keuntungan yang diperoleh dari menabung menjadi kurang berarti.

Itulah sebabnya, Eko menegaskan, masyarakat perlu mengubah mindset dari menabung ke berinvestasi.Dengan berinvestasi, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan jauh lebih besar daripada menabung. Sehingga bisa melindungi nilai kekayaan dari tingkat inflasi.

Yang lebih penting, untuk memulai berinvestasi tidak lagi membutuhkan dana besar. Pasalnya Sejumlah manager investasi telah mengeluarkan produk investasi yang nilainya hanya Rp100 ribu. Berdasarkan return dan risiko, lanjut Eko, ada beberapa portfolio investasi yang bisa dijadikan pilihan masyarakat. Dari yang returndan risikonya terendah hingga tertinggi.

Di antaranya deposito berjangka, asuransi, bisnis riil, properti, saham, komoditas, dan forex. Untuk melakukan wealth management dengan tepat, maka masyarakat harus mempunyai ekspektasi yang realistis, di mana terdapat risiko yang lebih pula dalam return yang lebih tinggi.

Eko menilai, dengan memahami bagaimana profil risiko yang dimiliki, apakah itu agresif atau konservatif, tahu tujuan dan jangka waktu investasi, maka masyarakat baru bisa membangun portfolio yang sesuai. Misalnya jika profil konservatif, maka lebih banyak porsi di obligasi. Sementara jika agresif, maka porsinya akan lebih banyak di bursa saham. (hermansah)(Koran SI/Koran SI/ade)d12n

HTML Comment Box is loading comments...